Ada satu momen yang cukup menarik dalam hubungan antara vendor dan freelancer. Bukan ketika klien tiba-tiba meminta foto tambahan waktu foto di luar paket, bukan pula ketika fotografer sudah sampai lokasi tetapi wisudawannya masih sibuk dandan. Melainkan ketika uang pembayaran fee freelance sudah ditransfer ke freelance, tetapi percakapan mendadak berubah menjadi dingin, tidak ada pergerakan, tidak ada suara, semuanya diam.
Vendor membuka mobile banking. Saldo berkurang. Bukti transfer tersimpan. Kewajiban telah ditunaikan. Lalu vendor menunggu satu hal kecil yang sebenarnya "tidak" memerlukan biaya administrasi, tidak dikenai PPN, dan tidak perlu persetujuan Bank Indonesia, ucapan terima kasih.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Besoknya, si freelancer mengunggah Instagram Story sedang ngopi dengan caption "siap diinpo".
Oh mungkin ucapan terima kasih dari freelance sedang dalam perjalanan. Mungkin terjebak macet. Atau jangan-jangan, pesan tersebut membutuhkan ekspedisi khusus dengan estimasi pengiriman tiga sampai lima hari kerja.
Tentu saja, ini bukan persoalan besar, kalau dilihat dari nominalnya. Namun, dalam dunia kerja, hal-hal kecil sering kali justru menjadi tempat kita melihat bagaimana seseorang memahami hubungan dengan orang lain.
Uang Itu Hak Freelance, Terus Terima Kasih Itu Apa?
Mari kita mulai dari perkara yang paling mendasar, vendor memang wajib membayar freelancer sesuai kesepakatan.
Kalau seorang fotografer sudah bekerja selama satu jam, mengarahkan wisudawan, memotret keluarga yang formasinya lebih rumit daripada rapat kabinet, lalu menyerahkan hasil pekerjaan sesuai ketentuan, ia berhak menerima bayarannya dong.
Vendor tidak sedang bersedekah, Freelancer juga tidak sedang menerima bantuan sosial
Ada pekerjaan, ada kesepakatan, ada pembayaran. Selesai, kan beres.
Karena itu, akan terasa aneh kalau seorang vendor berkata, "Saya sudah membayar kamu, lho. Harusnya kamu berterima kasih."
Lho, memangnya membayar jasa yang sudah dikerjakan itu prestasi ?
Padahal, hubungan bisnis tidak bekerja seperti itu.
Vendor membayar karena freelancer telah bekerja. Freelancer bekerja karena ada kompensasi. Keduanya menjalankan peran masing-masing.
Namun, justru karena pembayaran adalah urusan profesional yang biasa, kita perlu membedakannya dari satu hal lain, yaitu apresiasi.
Membayar adalah kewajiban. Mengucapkan terima kasih adalah etika.
Keduanya tidak saling menggantikan.
Freelancer tidak perlu berterima kasih seolah-olah baru saja menerima hibah miliaran rupiah. Cukup mengatakan, "Sudah masuk, Kak. Terima kasih atas job-nya." Sederhana, tidak perlu memakai materai, dan tidak akan membuat saldo rekening berkurang.
Vendor Bukan Mesin ATM yang Bisa Mencetak Job
Ada kecenderungan menarik dalam hubungan kerja freelance. Sebagian orang menganggap vendor seperti mesin ATM yang mengeluarkan job.
Butuh pemasukan? Hubungi vendor.
Ada tanggal kosong? Tanya vendor.
Sedang sepi pekerjaan? Kirim pesan, "Kak, ada job nggak?"
Tetapi, ketika job selesai dan pembayaran masuk, komunikasi tiba-tiba hilang ditelan bumi.
Padahal, sebelum pekerjaan itu sampai ke tangan freelancer, ada proses yang tidak selalu terlihat.
Vendor mungkin harus mencari klien, membalas pesan yang datang tengah malam, menjelaskan paket berkali-kali, mengatur jadwal, mencocokkan lokasi, memastikan fotografer tersedia, lalu menghadapi klien yang mendadak bertanya apakah harga paket sudah termasuk foto bersama seluruh tetangga.
Belum lagi ketika fotografer yang sebelumnya menyatakan tersedia ternyata sudah mengambil pekerjaan dari vendor lain.
Pada akhirnya, vendor bukan cuma menjual jasa fotografi. Ia juga mengelola kepercayaan klien dan membangun jaringan orang-orang yang bisa diajak bekerja sama.
Tentu saja, semua itu bukan alasan bagi vendor untuk merasa paling berjasa. Freelancer juga memiliki keterampilan, tenaga, waktu, dan tanggung jawab yang tidak bisa disepelekan.
Namun, memahami proses di balik pekerjaan setidaknya membuat kita sadar bahwa sebuah job tidak selalu muncul secara ajaib dari langit.
Ada orang yang mengusahakannya.
Dan sesekali, mengakui bahwa kesempatan tersebut datang melalui kerja sama dengan orang lain bukanlah tindakan yang merendahkan harga diri.
Toh, mengucapkan terima kasih tidak membuat seseorang turun jabatan.
Ternyata, Konfirmasi Pembayaran Juga Punya Harga
Ada satu kebiasaan kecil yang sebenarnya sangat membantu: mengonfirmasi bahwa uang sudah diterima.
"Sudah masuk, Kak. Terima kasih."
Dua kalimat. Kurang dari sepuluh kata. Tidak membutuhkan seminar komunikasi profesional, tidak perlu mengikuti pelatihan personal branding, apalagi membeli buku tentang kecerdasan emosional.
Tetapi, dua kalimat tersebut menyelesaikan setidaknya dua hal.
Pertama, vendor mengetahui bahwa pembayaran sudah diterima. Ia tidak perlu bertanya lagi, "Sudah masuk belum, ya?" yang kalau dikirim terlalu sering bisa membuatnya tampak seperti petugas survei bank.
Kedua, percakapan ditutup dengan baik. Kedua pihak tahu bahwa urusan pembayaran telah selesai.
Sebaliknya, ketika tidak ada respons sama sekali, vendor bisa bertanya-tanya. Apakah uangnya sudah masuk? Apakah ada masalah? Apakah nomor rekeningnya benar? Atau apakah freelancer sedang melakukan eksperimen sosial tentang seberapa lama manusia bisa bertahan tanpa membalas pesan WhatsApp?
Kita memang tidak bisa menilai karakter seseorang hanya dari satu pesan yang tidak dibalas. Bisa jadi ia sedang sibuk, lupa, atau punya kebiasaan komunikasi yang berbeda.
Namun, jika pola tersebut terus berulang, wajar apabila vendor mulai mengevaluasi hubungan kerja mereka.
Sebab, profesionalitas tidak hanya terlihat ketika seseorang sedang memegang kamera. Ia juga terlihat ketika seseorang harus membalas pesan sederhana.
Hubungan Kerja Bukan Lomba Siapa yang Paling Berjasa
Dan sebenarnya, keduanya memang penting.
Tanpa vendor, freelancer mungkin harus mencari klien sendiri, mengurus pemasaran, melakukan negosiasi, dan menangani seluruh komunikasi. Tanpa freelancer yang kompeten, vendor juga akan kesulitan menjaga kualitas layanan ketika pekerjaan datang bersamaan.
Masalah muncul ketika masing-masing pihak mulai menghitung kontribusi seperti menghitung utang di warung.
"Saya sudah memberikan pekerjaan."
"Saya sudah menghasilkan foto bagus."
"Saya sudah membayar tepat waktu."
"Saya sudah meluangkan waktu."
Semua merasa telah memberikan sesuatu. Semua ingin diakui. Akhirnya, hubungan kerja yang seharusnya sederhana berubah menjadi kompetisi diam-diam untuk menentukan siapa yang paling pantas menerima penghormatan.
Keduanya sama-sama bekerja. Bentuk pekerjaannya saja yang berbeda.
Jadi, Kalau Tidak Mengucapkan Terima Kasih, Apakah Itu Salah?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Tidak mengucapkan terima kasih sekali bukan berarti seseorang tidak punya etika. Bisa jadi ia lupa, terburu-buru, atau memang terbiasa berkomunikasi secara singkat.
Tetapi, membiasakan diri untuk tidak memberikan respons setelah menerima pembayaran juga bukan kebiasaan yang patut dibanggakan.
Terutama ketika hubungan kerja berlangsung berulang kali.
Dalam kerja sama jangka panjang, hal-hal kecil dapat membangun kenyamanan. Konfirmasi pembayaran, ucapan terima kasih, ketepatan waktu, dan komunikasi yang jelas membuat kedua pihak lebih mudah saling percaya.
Sebaliknya, jika seseorang hanya muncul ketika membutuhkan pekerjaan, tetapi menghilang ketika perlu memberikan konfirmasi, hubungan tersebut tentu layak dievaluasi.
Bukan berarti ia harus dicoret dari daftar freelancer hanya karena lupa mengetik "terima kasih". Namun, vendor berhak mempertimbangkan keseluruhan perilakunya ketika menentukan siapa yang akan diberi pekerjaan berikutnya.
Toh, vendor juga tidak wajib memberikan job kepada semua orang.
Dalam bisnis, kepercayaan bukan hanya soal kemampuan seseorang menghasilkan pekerjaan yang bagus, tetapi juga tentang bagaimana ia menjaga hubungan profesional.
Dan bagi freelancer, menjaga hubungan bukan berarti harus menjilat vendor atau selalu mengatakan iya. Cukup bekerja dengan baik, menghormati kesepakatan, berkomunikasi dengan jelas, dan menunjukkan apresiasi sewajarnya.
Pada Akhirnya, yang Ditransfer Bukan Cuma Uang
Mungkin terdengar berlebihan jika perkara ucapan terima kasih setelah transfer dijadikan bahan pembicaraan panjang. Bukankah ada persoalan bisnis yang jauh lebih besar daripada ini?
Ada, tentu saja. Dunia fotografi masih memiliki masalah harga jasa yang saling banting, klien yang meminta terlalu banyak, hingga freelancer yang mengambil pekerjaan pada waktu yang sama dari beberapa pihak.
Namun, justru dalam perkara kecil, kita bisa melihat bagaimana seseorang memahami profesionalitas.
Uang yang ditransfer menyelesaikan kewajiban pembayaran. Konfirmasi memastikan transaksi selesai. Ucapan terima kasih menjaga kesopanan. Sementara itu, tanggung jawab dan konsistensi menentukan apakah hubungan kerja layak dilanjutkan.
Tidak ada satu pun yang bisa menggantikan fungsi lainnya.
Vendor tidak perlu membeli rasa hormat dengan memberikan pekerjaan. Freelancer tidak perlu membayar utang budi hanya karena memperoleh kesempatan kerja. Keduanya cukup memahami bahwa kerja sama yang baik membutuhkan kontribusi dan penghargaan dari kedua sisi.
Kalau pembayaran sudah masuk, mengucapkan terima kasih bukanlah kewajiban finansial tambahan. Ia hanya bentuk kesopanan yang murah, sederhana, dan tidak membutuhkan saldo minimum.
Kalaupun tidak dilakukan, dunia mungkin tidak akan berhenti berputar.
Paling-paling, vendor akan kembali membuka daftar fotografer freelance, memeriksa siapa yang tersedia, lalu memberikan pekerjaan kepada orang yang dinilai paling cocok.
Sementara itu, si freelancer mungkin sedang ngopi sambil menunggu job berikutnya.
Barangkali kali ini, sebelum bertanya, "Kak, ada job nggak?", ia sempat mengetik dua kata yang kemarin terlupa:
Terima kasih.
← Kembali ke Blog